26 Mei 2007

Setahun Airmata Buku Jogja

Oleh Editor

Pagi ini setahun silam, 27 Mei, pukul 05.55, kota buku tua itu tergetar. Lalu setelah 55 detik, kota buku itu terhambur, tersobek, berantakan. Ia diguncang tarian bumi dari laut selatan segaris dengan jalur sungai opak yang selalu ritmik. Tarian maut itu geletekkan semua ruas buku Jogja yang mulai terbuka di pagi akhir pekan. Semua panik, semua lari.

Dan rumah-rumah pun terduduk. Lalu rintih dan tangis merundung. Darah mengalir. Luka menganga. Kepiluan menyeradak dari mata-mata yang kosong. Ibu mencari-cari anaknya, mencari-cari suami, mencari-cari sanak. Sementara anak memanggil-manggil di mana ibu, di mana ibu, di mana ibu, di mana ayah. Dan ribuan anak pun yatim tak beribu, piatu tak berbapak.

Tapi Jogja adalah buku. Ia bisa bangkit dengan solidaritas, ketahanan asa, dan kegigihan kerja. Pagi itu anak yang memanggil-manggil di mana ibu sedang menjemur buku yang basah airmata pencari ibu itu. Lalu pagi-pagi selanjutnya, siang-siang selanjutnya, dan malam2 selanjutnya, airmata buku itu sudah kering. Dan hari ini Jogja, si kota buku tua itu, sudah bisa membaca lagi seperti sediakala.

Hillary Clinton adalah srikandi politik yang sedang bersinar di Amerika Serikat. Dia banyak disorot dan juga dituliskan. Kiprah politik perempuan diulas dua buku: A Woman in Charge: The Life of Hillary Rodham Clinton (Carl Bernstein/Knopf, 628 pp.) dan Her Way: The Hopes and Ambitions of Hillary Rodham Clinton (Jeff Gerth and Don Van Natta Jr./Little, Brown, 438 pp.). Dua buku itu direview sekaligus oleh Michael Tomasky di The New York Review of Books>>


Tembok Berlin bukan hanya tembok yang dengan adonan semen, tapi juga perbedaan ideologi yang sarat politik kewarganegaraan. Buku The Berlin Wall: 13 August 1961-9 November 1989 yang ditulis Frederick Taylor (Bloomsbury, 486 pp, £20.00) mengulangi kembali drama itu dalam perspektif lain. Baca selengkapnya review buku tersebut yang dikerjakan Neal Ascherson di London Review of Books>>


Keberatan utama dalam menilai buku Andrea Hirata (Laskar pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor) adalah cara menyusun dan membingkai refleksi pengalaman hidupnya dalam bentuk struktur yang utuh dan solid. Akibat antusiasmenya, semua mengalir deras dan abai terhadap penataannya. Kemampuan Andrea untuk memisahkan antara dirinya dan obyek ceritanya tidak terjadi. Pengalaman masa lalunya diceritakan dalam terang kecerdasan masa kininya seolah-olah sudah terjadi pada masa ceritanya itu. Kemurnian, keluguan, dan suasana pikiran sezaman agak kacau dengan pengetahuan, kecerdasan, dan cara berpikir masa sekarangnya. Inilah yang membuat nilai dokumenternya menjadi kehilangan kepercayaan pembaca. Lebih lengkap kritik Jacob Soemardjo di Pustakaloka Kompas>>