02 Juli 2007

Penerbit Ombak: Menunggang Gelombang Amnesia Sejarah

Oleh Fadila Fikriani Armadita

Sejarah Indonesia silang sengkarut. Banyak yang dismbunyikan, banyak pula yang tak sesuai dengan fakta. Kabur, tak jelas barang bukti banyak disembunyikan. Demi egoisme kalangan kebenaran digadai. Semua demi satu kata tahta!

Sekian tahun tersembunyi, tak ada yang berani mengungkap. Bukan karena tak tahu tapi karena takut. Setelah runtuh semua terungkap bahkan sampai riak-riak kecil yang tak banyak orang tahu. Mereka yang selama ini bungkam angkat bicara, demikian lancar melesat begitu saja kata-kata yang dipunyainya seolah tanpa beban dan hambatan.

Kontroversi ada sejak dulu, bahkan ketika para pemuda mulai bangkit untuk bergerak. Gejolak 1965 menambah daftar panjang kontroversi sejarah Indonesia, yang terus menjadi perdebatan, Banyak yang menjadi pertanyaan dan belum terungkap, betulkan PKI adalah dalang dari gerakan yang menewaskan 6 Jenderal itu. Benarkah Suharto menggelapkan Supersemar? Betulkan ada kekejaman terhadap PKI, pembantaian besar-besaran, asal tangkap kadang terjadi, orang yang tak terlibat ditangkap dan diasingkan.

Tak heran buku yang menerakan kesaksian dari mereka yang bungkam tentang gejolak 1965 laris manis, diserbu pembaca. Tak banyak orang mau ambil peduli dengan penerbitan buku-buku itu. Tak ayal rasa takut masih menghantui benak mereka.

Ombak, rumah penerbitan yang mengambil jargon Mata Air Inspirasi, salah satu penerbit muda yang terus menjaga idelismenya di tengah penerbit yang menyesuaikan tuntutan pasar yang tekadang penerbitan lebih mementingkan kepentingan pasar ketimbang nilai idealisme yang diusung.

Tahun 2003, sekelompok pemuda yang dikomandani oleh M Nursam bersepakat untuk mendirikan sebuah rumah penerbitan yang konsen berbicara ihwal peristiwa 1965, buku-buku sejarah yang selama ini banyak menimbulkan tanda tanya, juga sastra dan kebudayaan yang tak jarang menimbulkan polemik. Buku-buku yang menjadikan sejarah sebagai wacana intelektual, bukan sekadar simbol. Kalau sejarah sebagai simbol, biarlah digarap oleh mereka yang menerbitkan buku ajar sejarah di sekolah. Tak heran ketika nilai idealisme lebih ke depankan ketimbang menuruti permintaan pasar.

Penerbit yang bermarkas di bilangan Nogotirto Yogyakarta ini telah menerbitkan puluhan judul buku terutama buku sejarah 1965 yang selama ini dibutakan oleh pemerintah orde baru. Sebut saja Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia (Asvi Warman Adam), Menggugat Historiografi Indonesia (B Purwanto), Mendobrak Penjara Rezim Orde Baru (Adam Soepardjan), Apakah Soekarno Terlibat G 30 S? (Kerstin Beise), Mendobrak Kekuasaan: Turba Lekra di Klaten (JJ Kusni), Membela Martabat Indonesia (JJ Kusni), Titik-titik Kisar di Perjalananku (Otobiografi Syafii Maarif), Raja, Priyayi, dan Kawula (Kuntowijoyo).

Buku terakhir yang diselesaikan Kuntowijoyo sebelum maut menjemput juga diterbitkan oleh Ombak dengan judul Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa, yang tak lain adalah skripsi yang ditulis oleh Sang Begawan pada tahun 1963. Terakhir, Seabad Kontroversi Sejarah, Perempuan dalam Kehidupan Soekarno: Biografi Inggid Garnasih, dan Istri-Istri Soekarno menjadi pilihan Ombak untuk melihat sisi lain sejarah Indonesia.

Pada ranah sastra ada Derak-Derak (novel Zoya Herawati), Kemerdekaan Di Mulai dari Lidah (novel AD Donggo), Bercermin di Muka Kaca (Basuki Resobowo), dan Sansana Anak Naga dan Tahun-Tahun Pembunuhan (puisi JJ Kusni).

Penerbitan yang dipimpin oleh alumnus Sejarah UGM ini tak mau begitu saja menuruti permintaan pasar, atau mengikuti arus, terkena hasut, atau propaganda yang ditebarkan oleh pemerintah orde baru dan mereka yang pro kepada penguasa. Ombak terus bertahan pada idealisme yang digaungkan sejak awal didirikan awal 2003 lalu. Mengungkap yang tersembunyi, membuka tabir kelam sejarah Indonesia tahun 1965. Mengkritisinya bukan mencaci apa yang diselewengkan dalam rentetan panjang sejarah Indonesia.

Hadirnya buku-buku prahara ’65 ini merupakan ikhtiar pelurusan atas pembengkokan kelampauan yang dilakukan Orde Baru. Paling tidak, ada bacaan sejarah alternatif dan wacana tanding atas apa yang disebut “sejarah senyap”. Dan kita tahu sampai hari ini usaha “bersih-bersih sejarah” itu belum juga tuntas benar dilakukan. Idealisme terus dijaga bertahun-tahun tak peduli buku yang diterbitkan diterima pasar atau tidak, laku atau tidak.

Lihatlah, buku-buku ajar sekolah khususnya sejarah tidak jauh berbeda, dari jaman ordebaru dulu, tak ayal kontroversi pun banyak terjadi. Guru tak berani menyajikan tandingan entah karena alasan takut ataupun karena tidak tahu. Karya-karya sastrawan yang dicap komunis belum bisa masuk dalam daftar bacaan wajib di sekolah.


Karena itu, melawan amnesia sejarah dengan buku tampaknya masih jadi kerja besar yang harus terus digelorakan. Dan perlawanan ini mengandaikan cadangan kesabaran dan stok idealisme yang memadai. Bukankah data hatus dilawan dengan data, bukan dengan tindakan anarkis atau perlawanan.

Ya, menerbitkan pustaka ’65 memang sebuah pilihan yang berani. Suatu idealisme yang langka. Penerbit pengusung bendera “sejarah senyap” ini bukannya tak sadar bahwa pustaka ’65 mereka bakal disambut pasar dengan dingin karena kata orang, “temanya lawas, (telah) kehilangan momentum, serta nggak gaul”. Tapi bukankah harus ada yang memilih. Harus ada yang berkorban dan terus nyalakan cita-cita serta harapan agar langit historiografi Indonesia tak selalu digelungi gumpalan awan hitam kebohongan.

Hillary Clinton adalah srikandi politik yang sedang bersinar di Amerika Serikat. Dia banyak disorot dan juga dituliskan. Kiprah politik perempuan diulas dua buku: A Woman in Charge: The Life of Hillary Rodham Clinton (Carl Bernstein/Knopf, 628 pp.) dan Her Way: The Hopes and Ambitions of Hillary Rodham Clinton (Jeff Gerth and Don Van Natta Jr./Little, Brown, 438 pp.). Dua buku itu direview sekaligus oleh Michael Tomasky di The New York Review of Books>>


Tembok Berlin bukan hanya tembok yang dengan adonan semen, tapi juga perbedaan ideologi yang sarat politik kewarganegaraan. Buku The Berlin Wall: 13 August 1961-9 November 1989 yang ditulis Frederick Taylor (Bloomsbury, 486 pp, £20.00) mengulangi kembali drama itu dalam perspektif lain. Baca selengkapnya review buku tersebut yang dikerjakan Neal Ascherson di London Review of Books>>


Keberatan utama dalam menilai buku Andrea Hirata (Laskar pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor) adalah cara menyusun dan membingkai refleksi pengalaman hidupnya dalam bentuk struktur yang utuh dan solid. Akibat antusiasmenya, semua mengalir deras dan abai terhadap penataannya. Kemampuan Andrea untuk memisahkan antara dirinya dan obyek ceritanya tidak terjadi. Pengalaman masa lalunya diceritakan dalam terang kecerdasan masa kininya seolah-olah sudah terjadi pada masa ceritanya itu. Kemurnian, keluguan, dan suasana pikiran sezaman agak kacau dengan pengetahuan, kecerdasan, dan cara berpikir masa sekarangnya. Inilah yang membuat nilai dokumenternya menjadi kehilangan kepercayaan pembaca. Lebih lengkap kritik Jacob Soemardjo di Pustakaloka Kompas>>